Tips Dan Cerita Travelling Ke Negara Laos Lengkap 2017

Laos, Perpaduan Kesederhanaan dan Keindahan

Negara Laos dikenal di seluruh dunia karena kejujuran dan kesederhanaannya, pengalaman tak terlupakan bagi saya dimulai saat pesawat mendekati Bandara Luang Prabang.

Pemandangan karpet hijau perbukitan nan spektakular, yang hanya perlu dilihat langsung, tanpa kata-kata.

Laos adalah negara yang dikenal dengan sebutan ‘landlock’ atau negara yang dikelililngi daratan, yang berbatasan dengan Myanmar, Thailand, Vietnam dan China.

Ini adalah salah satu negara di Asia yang kurang dieksplorasi, dengan dua pertiga daratannya ditutupi oleh pegunungan dan perbukitan.

Bandara Luang Prabang di Laos.NOVA DIEN Bandara Luang Prabang di Laos.

Perjalanan saya ke negara ‘sejuta gajah’ ini tak disengaja dan tanpa rencana. Saya mengiyakan ajakan seorang teman, Trinity untuk melengkapi daftar ke 82 negara yang dikunjunginya.

Kami sepakat bertemu di sebuah kota kecil bernama Luang Prabang, di negara yang semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan Korea Selatan. Mungkin, salah satu alasan adalah ‘Youth Over Flowers’, travel–reality show TV dari Korea Selatan.

Festival Lampu di Luang Prabang

Luang Prabang, adalah salah satu situs wisata yang kurang begitu dikenal. Kota semenanjung ini terletak di utara Laos, 388 kilometer dari ibu kota Vientiane.

Alms Giving Ceremony di depan Hotel Azerai, Luang Prabang, laos.NOVA DIEN Alms Giving Ceremony di depan Hotel Azerai, Luang Prabang, laos.

Namun, Luang Prabang adalah Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995, karena kekayaan budaya dan keragaman etniknya.

Luang Prabang sebagai kota yang memiliki jiwa spiritual dan arsitektur sakral ini diakui sebagai pusat budaya dan agama Buddhisme Theravada.

Berhubung ini adalah kali pertama ke Luang Prabang, kami memilih penginapan yang berdekatan dengan pusat kota.

Ternyata, Hotel Azerai pilihan kami ini selain lokasinya tepat berada di persimpangan antara Grand Palace, museum Nasional dan Night Market, bangunan asli hotel ini pun merupakan salah satu bangunan kuno yang pertama di Luang Prabang.

Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.

Dibangun sejak 100 tahun yang lalu, direkonstruksi ulang pada tahun 1961, yang kemudian dibeli oleh seorang pengusaha asal Indonesia, Adrian Zecha, pemilik grup hotel Aman yang terkenal di seluruh dunia. Bangga juga jadi orang Indonesia.

Kejutan lainnya saat kami tiba di hotel, kami disambut oleh sang GM, Pak Gary, orang Australia yang pernah tinggal di Indonesia selama 20 tahun dan Pak Bagi, orang Indonesia asal Bali yang ramah dengan bahasa Indonesianya yang beraksen Bali. Kami langsung berasa ada di Bali!

Waktu kedatangan kami di Luang Prabang ternyata sangat tepat, karena hari itu adalah hari perayaan Boun Ok Phansa atau Festival Lampu, dan keesokannya adalah Boun Awk Pansa yaitu Festival Perahu. Keduanya adalah festival tahunan yang penting di negara yang berbahasa mirip dengan Thailand ini.

Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.

Festival yang dimulai dengan upacara pemberian sedekah kepada para biksu di pagi hari atau yang dikenal dengan sebutan ‘Alms Giving Ceremony’.

Luang Prabang adalah tempat yang paling tepat untuk melihat salah satu tradisi Laos yang paling sakral ini. Saat matahari terbit, sekitar 200 biksu Buddha berangkat dari berbagai kuil untuk mengumpulkan makanan sehari-hari mereka.

Ritual sedekah yang berlangsung sejak abad ke-14 ini, masih berlangsung setiap hari, sampai sekarang. Sedekah yang paling umum adalah berupa nasi, buah segar dan makanan ringan tradisional.

Museum Nasional di Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Museum Nasional di Luang Prabang, Laos.

Subuh sekitar jam 5.30, kami bangun dan mendapatkan petugas hotel telah menyiapkan terpal untuk kami duduki, lengkap dengan bakul nasi masing-masing.

Kami diminta menunggu dengan tenang di pinggir jalan sampai kedatangan sekitar 20 orang biksu yang lewat di depan hotel kami.

Kelompok biksu dari usia delapan sampai 80 tahun dengan jubah safron berwarna orange adalah pemandangan umum setiap saat di kota Luang Prabang.

Untuk melestarikan tradisi ini, diberlakukan curfew atau ‘jam malam’ di Luang Prabang, yaitu jam 11.30 malam, agar warga bisa bangun di pagi hari untuk ritual ini.

Air Terjun Kouang Si di Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Air Terjun Kouang Si di Luang Prabang, Laos.

Di kota tak berpantai ini terdapat ratusan, bahkan mungkin ribuan air terjun yang terdapat di antara alam pegunungan liar yang kebanyakan masih belum tersentuh manusia. Kami mendatangi salah satu air terjun yang terkenal mendunia yaitu Kouang Si Falls.

Air terjun Kouang Si (Kuang Xi atau Tat Kuang Si Waterfalls), adalah air terjun tiga tingkat yang dapat ditempuh selama 45 menit berkendara, atau sekitar 29 kilometer dari Luang Prabang.

Air terjun ini merupakan tempat favorit bagi wisatawan di Luang Prabang ini menampilkan kolam air pirus yang tak terhitung jumlahnya, mengalir turun dari mata air setinggi 60 meter.

Ada sekitar lima lokasi air terjun di sini sekaligus menjadi lokasi salah satu pusat perlindungan beruang merah di Laos.

Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Festival Lampu di Kuil Luang Prabang, Laos.

Kembali ke kota Luang Prabang, hari sudah sore. Namun, kota kecil ini semakin hidup. Kami melihat cahaya lampu lentera dan lilin di mana-mana. Mulai dari pasar malam, rumah-rumah penduduk, di setiap kuil sampai di sepanjang jalan.

Lights Festival sudah dimulai! Festival lampu dan perahu ini direkomendasikan oleh National Geographic Photographer, yang tentunya menjadi objek foto paling populer di Luang Prabang.

Malam itu kami menikmati parade perahu lampu dari balkon hotel Azerai. Prosesi perahu buatan tangan dengan batang bambu dan pisang, dihiasi warna-warni lilin dan uang kertas dimulai dari Kuil Wat Xieng Thong yang terletak di persimpangan jalan, kemudian diarak menuju sungai sebagai penghormatan kepada roh air.

Lampu mewakili cahaya Buddha, sementara lilin melambangkan pelepasan dari semua kebencian, kemarahan dan kekotoran batin.

Parade perahu lampu di Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Parade perahu lampu di Luang Prabang, Laos.

Setiap keluarga harus membuat satu, setiap orang harus membuang satu perahu kecil yang diterangi di Sungai Mekong, berharap kesuksesan untuk masa depan masing-masing.

Setelah arakan mencapai tepi sungai, saya dan Trinity pindah ke kapal yang telah disiapkan hotel, agar kami bisa melihat prosesi tersebut dari atas air. Ada sekitar 20.000 perahu yang diturunkan di sungai Mekong malam itu.

Di bawah sinar bulan purnama, sambil menikmati makan malam dan segelas anggur putih, kami menyaksikan ritual akhir dari masa prapaskah Buddha tahunan, yang menandakan hari terakhir turunnya hujan di Luang Prabang. Simply beautiful

Tubing di Vang Vieng

Kami mengunjungi kota kedua Laos, yang ditempuh selama 4-5 jam perjalanan darat. Kabarnya, Vang Vieng dikenal sebagai kota yang berorientasi turis dan pesta narkoba. Korban turis yang meninggal disini tidak sedikit.

Papan larangan narkoba di Van Vieng, Laos.NOVA DIEN Papan larangan narkoba di Van Vieng, Laos.

Pada tahun 2011, tercatat 27 wisatawan meninggal karena minuman keras dan korban halusinasi narkoba. Meskipun terdapat papan larangan pengunaan narkoba di mana-mana, namun masih saja peraturan tersebut dilanggar.

Kebanyakan dari mereka ditemukan di sungai dengan leher patah dan paru-paru penuh air sehabis ikutan tubing atau loncat dari tebing ke sungai. Ish!

Dan… Trinity mengajak saya ikutan tubing, semacam arung jeram, tapi hanya menggunakan ban dalam bekasan mobil. Katanya, tubing adalah aktivitas ‘wajib’ di Vang Vieng.

Seperti ajakan iklan dari setiap agen wisata di sini: “Hop on a tube, float down the river, grab a few drinks and have an awesome time! That’s tubing in Vang Vieng”. Jadilah, kami ikutan tubing dengan menaklukkan arus deras Sungai Nam Song selama dua jam!

Selesai tubing di Van Vien, Laos.NOVA DIEN Selesai tubing di Van Vien, Laos.

Kami diberi dua tube, jaket pelampung, tanpa informasi rute, kami naik sendiri ke dalam ban yang cukup besar untuk badan saya. Mendorong sendiri ke sungai, terbawa arus, bahkan saya sempat terpisah jauh dari Trinity.

Sempat juga mengapung dan berputar di arus yang disebut break-currents. Saya hanya bisa menunggu arus yang lebih deras, untuk mengeluarkan saya dari lingkaran arus-putar tersebut.

Saya sempat bertanya kepada orang lokal, berapa kedalaman sungai ini, yang hanya dijawab  dengan kata ‘sangat dalam’. Dipanggang matahari siang, saya pasrah terserah arus. Sempat juga disemprot air sungai oleh beberapa wisatawan Korea yang lebih memilih perahu kayak daripada tubing.

Namun, pemandangan indah alam menjadi teman perjalanan saya sepanjang sungai, hingga akhirnya kami tiba di titik perhentian.

Perjalanan ke Van Vieng, Laos.NOVA DIEN Perjalanan ke Van Vieng, Laos.

Dari kejauhan, kami mendengar seseorang berteriak melambai ke arah kami. Kami diminta berenang menepi untuk ditarik dengan menggunakan tali, agar tidak terseret arus melewati lokasi final kami.

Akhirnya, di sebuah bar dengan beberapa bunk-bed yang menghadap ke sungai berlatar belakang bukit kapur yang indah, kami merayakan ‘keselamatan’ dan pengalaman seru tubing kami dengan Lao Beer, yang terkenal sebagai bir terbaik di Asia.

Memang tanpa sengaja, saya bisa menikmati pemandangan alam dari medan pegunungan yang luar biasa di Laos. Arsitektur bangunan bekas kolonial Perancis yang kental berpadu dengan desain tradisional Lao, ritual harian pemberian sedekah, kuil-kuil cantik, Sungai Mekong, Air Terjun Kouang Si.

Tanpa rencana, saya sempat menyaksikan kedua festival tahunan terpenting di Laos dan sempat ke kota batu kapur Vang Vieng dan tubing di Sungai Nam Song.

Ikan bakar di Night Market, Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Ikan bakar di Night Market, Luang Prabang, Laos.

Namun, tanpa henti pun, saya terus disapa Sabaidee dengan senyum ramah penduduk Laos lah, yang membuat perjalanan saya ke negara sederhana namun indah ini, menjadi suatu pengalaman yang sangat berkesan.

Khob Chai, terima kasih, Laos.

Rekomendasi Hotel

1. Luang Prabang

Jika pertama kali mengunjungi Luang Prabang dan tidak ingin repot ke mana-mana, saya sarankan memilih Azerai (www.azerai.com) karena lokasi penginapan ini sangat dekat ke mana-mana.

Kolam renang di Riverside Van Vieng, Laos.NOVA DIEN Kolam renang di Riverside Van Vieng, Laos.

Berhadapan dengan Pasar Malam, hanya perlu menyeberang jalan untuk mencari makanan lokal dan belanja di Night Market.

Penginapan Le Sen Boutique Hotel (www.lesenhotel.com) adalah alternatif kedua untuk pilihan hotel yang lebih terjangkau.

Di penginapan ini tersedia layanan transportasi gratis setiap 30 menit. Kendaraan akan mengantar dan menjemput tepat waktu, termasuk ke bandara.

2. Vang Vieng

Penginapan di Riverside Boutique Resort (www.riversidevangvieng.com) adalah hotel wajib di Vang Vieng.

Naik kapal di Sungai Mekong, Laos.NOVA DIEN Naik kapal di Sungai Mekong, Laos.

Lokasi hotel ini berada di tepi Sungai Nam Song dengan kolam renang berlatar belakang lansekap pegunungan batu kapur yang menakjubkan.

Rekomendasi Restoran

Bagi saya yang tinggal di negara kuliner terkenal seperti Thailand, saya lebih menyukai makanan Laos. Walau mirip dengan makanan Thai, namun cita rasa yang beragam dari makanan di sini, lebih cocok dengan selera saya.

Untuk menikmatinya, saya sarankan mencoba menu ikan air tawar bakar dengan sambal segar di Night Market. Sedangkan untuk makan malam di restoran, silakan ke kafe Toui yang terletak di ujung Pasar Malam. Coba semua menu, termasuk Mango Sticky Brown Rice, sebagai makanan penutupnya! Yum!

Parade perahu lampu di Luang Prabang, Laos.NOVA DIEN Parade perahu lampu di Luang Prabang, Laos.

Bagi petualang makanan tradisional, wajib mencoba Omelette Laos di pinggir Sungai Mekong. Untuk tempat gaul, coba Utopia Bar, lesehan dengan pemandangan Sungai Mekong.

Namun harus diingat, jam tutup semua restoran di sini adalah jam 11 malam. Jangan lewat curfew, jika tak mau berurusan dengan polisi. Sumber KOMPAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *